Me, my self & my family

me, my self & my family
Mungkin jadwal hari kerja saya ini tergolong langka di Indonesia. Saya bekerja pada sebuah perusahaan tambang tembaga di pulau Sumbawa dengan jadwal hari kerja empat hari bekerja dan empat hari libur. Artinya saya berada di lokasi tambang di pulau Sumbawa empat hari dan berada di pulau Lombok empat hari. Artinya saya berpisah dengan anak isteri empat hari dan berkumpul kembali empat hari. Artinya sampai hari ini bisa dikatakan lima puluh persen umur saya setelah menikah untuk “membersamai” keluarga dan lima puluh persen lagi di rantau orang. Asyik ya? Tiap pekan selalu merindui satu sama lain diantara kami sekeluarga dan belum terlalu rindu, empat hari berselang sudah bertemu kembali, disambut riang anak-anak di depan rumah. Dulu sebelum kami mengkredit sebuah rumah yang sekarang kami tinggali, setiap malam di kamar camp tempat saya bekerja di lokasi proyek tambang saya menghabiskan waktu rata-rata satu jam menelpon rumah bercengkerama dengan keluarga. Itu pun terasa kurang bagi saya. Kelelahan saya bekerja non stop dua belas jam dalam sehari hilang seketika saat mendengar anak-anak bercerita pengalamannya hari itu. Ponsel saya sampai terasa hangat di telinga sehangat cinta kasih isteri saya yang selalu sabar menjalani lima puluh persen hidupnya tanpa jasad saya di sisinya. Sekarang saat mencicil rumah terpaksa anggaran telpon dialihkan sebagian untuk cicilan rumah. Kami lebih banyak sms-an saja jadinya. Wah sejak saat itu saya sering merasakan kerinduan yang membuncah-buncah. Aduhai apa mau dikata hidup memang selalu ada saja perubahannya. Kalau sudah begini kadang saya merasa bosan dan ingin segera pindah kerja saja yang jadwal kerjanya pergi pagi pulang sore berkumpul keluarga. Apalagi “alhamdulillah” beberapa tahun terakhir ini saya dan isteri ditakdirkan Allah menjadi bagian dari penggiat dakwah. Serta-merta saya harus banyak menginfakkan sesuatu yang saya cintai melebihi dari kecintaan saya kepada harta benda saya, yaitu waktu bersama keluarga di hari libur. Kini prosentase hidup saya menjadi terbagi lagi. Lima puluh persen untuk kerja di rantau orang, dan yang lima puluh persen lagi di bagi dua untuk keluarga dan untuk dakwah. Terkadang untuk keluarga hanya kebagian sepuluh persen saja jika saat itu beban dakwah yang diamanahkan sedang banyak. Sepuluh persen itu masih dipotong tidur di malam hari. Tapi pada kadang yang lain juga mungkin Allah kasihan pada kami, ada saja waktu luang yang bisa kami manfaatkan di celah-celah aktivitas dakwah. Jika ada rejeki, kami menyewa satu kamar hotel berbintang di kawasan pantai Senggigi pulau Lombok nan indah ini. Satu hari satu malam saja. Lumayan lah melepas lelah dan rindu bersama-sama sambil menikmati sunset di ujung laut. Ini bukan lari dari dakwah. Bukankah membahagiakan anak dan isteri juga sunnah Rasul? Bahkan Allah pun memerintahkan “Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (Q.S 4:19). Hanya saja kita harus pandai mengatur waktu dan prioritas amal kita. Pada suatu ketika kami dihadapkan pada aktivitas dakwah yang cukup padat dari pagi sampai jam sebelas malam. Sementara saat itu anak sulung kami yang duduk di bangku kelas dua sebuah Sekolah Dasar Islam terpadu di Lombok akan ulangan di sekolah besok paginya. Hampir tidak ada waktu untuk mendampingi anak kami itu belajar. Dia sempat protes dengan kegiatan kami dan tidak mau belajar didampingi oleh salah seorang akhwat binaan teman dakwah kami yang kebetulan guru ngajinya juga. Biasanya isteri saya mereview buku-buku latihannya selama satu smester terakhir dan membuat lembaran soal dengan komputer lalu di print dan diberikan kepada anak kami tersebut sebagai bahan latihan dia untuk menghadapi ulangan. Isteri saya dengan sabar mendampingi dan membimbingnya. Kali ini isteri saya hanya sempat membuatkan soal latihan dan di print satu jam menjelang magrib. Baru sempat mendamping beberapa menit kami sudah harus berangkat ke sebuah hotel di mana ada acara konsolidasi dakwah dengan para qiyadah dakwah dari Jakarta sampai larut malam. Al hasil anak kami tidak maksimal belajarnya. Apakah dakwah yang salah? Tidaklah, kami saja yang kurang bisa menata waktu. Itulah jawaban husnuzhan kami kepada Allah. Anak-anak tidak mau tidur sebelum bermain dengan saya malam itu. Tidak mau juga belajar. Saya pulang jam setengah dua belas malam. “Ah anak-anak menuntut haknya bermain dengan abinya. Saya harus memenuhi hak mereka” pikir saya dalam hati. Walaupun lelah akhirnya saya ladeni juga mereka. Anehnya rasa lelah saya kok hilang ya. Kami begitu gembira melewatkan malam saat itu. Tak terasa sudah jam setengah satu malam. Wah bisa-bisa besok pagi terlambat bangun nih. Akhirnya saya ajak tidur anak-anak dengan bijak. Karena hak-haknya sudah terpenuhi dan kelihatannya mereka juga sudah mengantuk maka tidaklah sulit menyuruh mereka tidur. Akhirnya ketiga anak saya pulas dengan posisi tidur yang berbeda-beda. Si ummi sudah duluan terbang ke alam mimpi dari tadi. Tapi sebelum tidur saya sempat membuat perjanjian pada anak saya untuk belajar besok sesudah shalat subuh. Subuhnya alhamdulillah saya dan anak saya bisa takbiratul ihram bersama imam di masjid. Sepulangnya dia langsung belajar dengan uminya. Saya sendiri membaca al ma’tsurat dibelakang istri saya sambil memijiti punggungnya yang lelah. Di luar sana pagi hari sudah mulai terang dan kicau burung semakin ramai.
