Ayahku dan versi cintanya
Satu momen di atas lembaran masa kanak-kanakku…..

Ayahku
Sore itu hujan masih tersisa rintik-rintiknya. Aku dan kedua kakakku masih asyik bermain bola di lapangan bersama teman-teman kami. Berlarian mengejar bola, kemudian tertawa-tawa, berguling-guling di lumpur dan saling dorong. Mamak memanggil-manggil dengan nada marah melihat kami bermain lumpur. ”Hebat….anakku hebat…beriman…beruntung…bertuah…” teriaknya. Semarah-marahnya orangtua dahulu tak ada kata serapah yang keluar walau sedang marah. Tapi teriakan itu tak kami gubris, hehehe dasar anak bandel. Tak mempan teriakannya, mamak mengadu pada bapak. Tak lama bapak hanya berdiri saja memandang kami dari jauh. Aneh binti ajaib kami langsung ketakutan dan pulang berderet seperti bebek pulang ke kandang. Bapak tak pemarah, bahkan suka melucu kalau bercerita. Ia juga lelaki biasa yang miskin. Ia tak punya pekerjaan tetap. Kadang-kadang ia menghukum kami dengan cara disetrap, dengan caranya sendiri tentunya. Ada saja idenya bikin kami jera. Seperti sore itu, karena tak menghiraukan teriakan mamak, kami bertiga (semua laki-laki) dihukum. Bapak menutup pintu lalu memerintahkan kami berdiri tegap berjejer di atas kursi tamu yang agak panjang. Dia berpikir sejenak dan mulai memasang muka dingin. ”Buka celana kalian” perintahnya. Anehnya lagi walaupun dengan sesungukkan kami menurut saja perintahnya. Kulirik wajah kakakku yang tertua merah hidungnya karena menahan tangis dan malu. Aku sendiri megap-megap ketakutan. Tampaknya Bapak berhasil dengan wajah dinginnya membuat kami takut. Lalu bapak mengambil beberapa baterai bekas senter dan karet gelang. Dan oh…tidak….dalam sekejap baterai-baterai itu sudah terikat menggelantung pada tempat yang sakral dan memalukan. Tahu lah kau…tak usah dibahas apa maksudnya tempat sakral itu. Yang jelas tak ada satu pun yang berani berkata-kata saat itu. Tak lama bapak tak bisa menahan tawanya. Ia terkekeh-kekeh menyaksikan kami seperti seni manusia patung malin kundang dengan pose yang berbeda dengan aslinya. Kemudian tawa terkekeh-kekehnya itu berubah menjadi terpingkal-pingkal sampai gigi palsunya mau lepas. Bah kami dikerjain rupanya. Lalu kami akhiri kekonyolan itu dengan mengenakan kembali celana pendek kami lalu lari berhamburan ke arah bapak, kami pukuli bapak sekenanya sambil ikut tertawa-tawa. Ia menyerah dan akhirnya kami semua dipeluki dan diciumi ubun-ubun kami satu-persatu, baru diajak ke tempat tidur. Kami berebutan tidur di ketiaknya seperti anak-anak kucing berebut tetek ibunya. Saat itulah, ketika kami semua merasa telah mendapat hukuman atas kesalahan kami dan hati kami kembali nol bapak berpetuah: ”Anak-anakku yang kusayangi semuanya, jangan suka membantah mamak ya! Kasihan dia, tak tahukah kalian? mamak itu letih karena menjahit baju pesanan orang untuk memberi makan kalian. Bapak dan mamak kepingin kalian nanti jadi orang pintar yang soleh. Biar jadi insinyur, jadi dokter atau professor satu pesan bapak jangan tinggalkan sembahyang (sholat)”. Tak lama, mamak memanggil dari dapur: ”Anak-anak ini singkong gorengnya sudah matang, ayo kita makan rame-rame.” kami semua langsung berlarian, tak terkecuali bapak menyerbu singkong goreng mamak. Dalam sekejap singkong goreng yang makannya dengan cara mencoleknya pada sambal goreng kacang itu ludes tak bersisa. Lalu diakhiri dengan menyeruput teh panas yang sudah disediakan mamak. Sementara hujan kembali deras menimbulkan suara berisik karena butiran-butiran air yang menghantam atap seng rumah kami yang tak berplafon itu. Tak ada jingga di langit sore itu karena terhalang awan gelap. Kami merasakan ketentraman dan kebahagiaan. Bapak tak ingin kerja tetap yang penuh rutinitas karena itu akan menjadi penghalang kebersamaannya dengan keluarganya. Ia berbisnis serabutan, tapi alhamdulillah walaupun kami miskin dan mamak terpaksa harus ikut mencari nafkah dengan menerima jahitan baju, kami bisa melewati waktu bersama-sama dalam suka dan duka. Kedekatan kami kepada bapak membuahkan cinta yang menjadi alasan kenapa kami begitu menurut padanya. Ia adalah pribadi yang unik dan mengesankan. Hari ini saat kutulis ini tak bisa kulupakan ketika hipertensi yang membuatnya lumpuh selama tiga tahun setengah akhirnya merenggut nyawanya di saat aku sedang bekerja di rantau dalam rutinitas proyek pertambangan batubara. Aku tiba di rumah menjumpainya sudah tak bernyawa. Aku sangat menyesal tak bisa menghantarkannya dengan talkin. Kini aku terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang banyak menyita kehadiranku di tengah keluargaku, terutama anak-anakku. Aku telah kehilangan banyak kebersamaan dengan keluargaku. Aku bertekad dalam waktu dekat akan kutinggalkan pekerjaan tetap. Insya Allah, aku akan menjadi pebisnis yang punya banyak waktu bersama tiga anak lelakiku. Tapi bukan pebisnis serabutan seperti bapak. Insya Allah….Oh bapak, terima kasih atas ajaranmu tentang cinta. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu wa adkhilhu jannatun na’im bi mardhotika ya Karim..
