1 Jam di RSU Mataram

Kupacu vespa butut tahun 90 ku meninggalkan kantor DPW PKS NTB di jalan Majapahit mataram sehabis mengantar isteriku rapat. Suara vespa bermesin “dua tak” itu meraung kecil memecah udara panas di musim hujan kota Mataram awal bulan januari 2008. Tak tahulah sudah, berapa persen kadar emisi dari knalpot motor tua yang sudah tak diproduksi lagi itu berkontribusi mem ”polusiudarakan” lalu lintas kota. Bunga-bunga lamtoro terlihat di sisi-sisi jalan Majapahit indah menawan. Jingga warnanya bak sakura Jepang di musim semi. Tujuanku saat itu adalah RSU Mataram, poliklinik THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Entah kenapa habis berenang bersama keluarga pekan yang lalu pendengaran sebelah kananku seperti tersumbat. Sudah pun kubersihkan kotorannya, namun telingaku semakin gatal-gatal. Benci sekali rasanya kalau pendengaran tidak beres. Kalau bicara dengan orang atau menelpon aku terpaksa memakai telinga kiriku. Ribet. Sebenarnya aku juga khawatir jangan-jangan pendengaranku memang berkurang alias tuli dengan prosentase ketulian tingkat minor. Karena pada dasarnya masih bisa mendengar sih, hanya saja berkurang. Bisa saja itu terjadi, soalnya aku bekerja di bengkel alat berat dengan tingkat kebisingan di atas 80dB (Desibel). Artinya di atas ambang batas kemampuan telinga manusia menahan getaran suara bising.
Raungan knalpot vespa bututku tidak ada apa-apanya dibandingkan suara ”kentut” knalpot satu buah dump truk raksasa dengan berat operasi 250 ton. Dengan frekuensi getaran suara ribuan Hz tanpa alat pelindung pendengaran (Ear plug atau ear map) dalam waktu yang terus-menerus maka kemampuan dengar bisa berkurang. Makanya pengecekkan tahunan harus dilakukan. Kebisingan memang bahaya laten. Tapi jangan sampai ketulian ini menjadi awal dari ketulian yang sesungguhnya. …”dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (Q.S Al-A’raf : 179. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.
Pukul sepuluh lebih dua puluh menit aku tiba di halaman parkir RSU Mataram. Aku masuk lewat pintu timur tempat pegawai RSU biasa masuk. Aku sengaja lewat situ karena tidak tahu di mana letak poliklinik THT di Rumah Sakit sebesar itu. Sekalian aku ingin mencoba berperan sebagai seorang rakyat miskin yang kepingin berobat di RSU. Apa saja yang harus mereka lalui sebelum berobat. Alhamdulillah aku diberi nikmat menjadi seorang buruh tambang tembaga Amerika di Sumbawa. Posisi ini sesungguhnya memungkinkan aku mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik di klinik-klinik atau praktek dokter yang ada di Mataram. Karena semua biaya pengobatan ditanggung Perusahaan. Tapi kali ini Aku ingin merasakan bagaimana orang-orang miskin berjuang mendapatkan pelayanan pengobatan. Supaya aku betul-betul merasakan arti syukur yang sesungguhnya. Dengan membandingkan keadaan diriku dan orang lain.
Di pintu masuk kulihat ada sekuriti RSU sedang mengobrol dengan beberapa lelaki yang berseragam dan yang tidak berseragam pegawai. Mereka asyik masyuk bercengkerama ngalor ngidul sambil menghisap rokok. Sang sekuriti alias satpam tiba-tiba berseloroh di depan seorang ibu-ibu bertubuh kecil agak genit berseragam pegawai RSU: ”Hai cewek…” ibu itu nyengir tersenyum menandakan bahwa mereka sudah saling kenal. ”Biar muda atau tua, kan juga cewek..Ha…ha…ha” si satpam terbahak-bahak membuatku jengkel dengan humor tak bermutunya itu.
Sepanjang lorong dan gang-gang RSU kujumpai perawat yang sibuk hilir mudik. Yang wanita kebanyakan berjilbab. Ada yang bersenda gurau cekikikan sambil membawa map-map di dadanya solah-olah mereka adalah mahasiswi-mahasiswi yang habis keluar dari kelas yang diajar oleh dosen berwajah mirip Tom Cruise, aktor Holliwood kondang. Girang sekali kelihatannya. Mereka tak tersentuh dengan wajah suram dan sedih seorang inaq (panggilan lombok untuk ibu-ibu kampung) yang berjalan kelelahan mengitari rumput di samping gang sambil menjemur sarung dan kainnya di atas rumput. Tampaknya ia kurang tidur semalam. Mungkin ia begadang mendampingi orang yang dicintainya yang tergeletak di kamar padat pasien kelas C yang mirip tempat pengungsian korban gempa bumi, saking banyaknya dan nyaris tanpa privacy.
Di depan bangsal itu duduk-duduk keluarga pasien menggelar tikar. Ada pula yang merokok, karena memang tidak ada larangan merokok. Sementara di kepala si inaq dibebani pikiran hutang dan berapa biaya obat yang harus ditebusnya. Apa semua bisa diatasi dengan kartu Miskin? Ah sebuah ekspresi cinta yang tak diperhitungkan khalayak di sekitarnya. Ia sibuk dengan kesunyian cintanya sendiri.
Di tembok rendah di sisi gang yang memang di disain sebagai tempat duduk-duduk terlihat beberapa manusia sibuk dengan agenda pembicaraan mereka masing-masing. Ada seorang pegawai RSU yang berjilbab duduk-duduk bersama temannya dengan wajah tak bercahaya. Sepertinya ia baru saja curhat dengan temannya itu sehabis bertengkar dengan suaminya gara-gara berebut remote control TV. Ketika aku lewat matanya terlihat penuh kebencian memelototi aku. Mungkin baginya semua laki-laki di dunia ini sama saja egoisnya. Kubaca satu per satu petunjuk keterangan nama-nama tempat yang tertera di atas langit-langit gang. Sampailah aku ke bagian poliklinik. Masya Allah di sini manusianya lebih banyak. Mirip pasar kebon roek di sore hari.
Di perempatan gang aku terpaku memandangi manusia-manusia hilir mudik. Di arah barat komplek Poliklinik, ada poli anak, poli gigi, poli jantung dan paru, poli THT dan poli-poli yang lain kecuali politeknik atau poligami. Di sebelah utara ada apotik, di sebelah selatan adalah akses ke kantin sekaligus jalan keluar. Di kantin itu samar-samar terlihat bayangan akh Yuli,Saudara seperjuangan dalam dakwah sibuk dengan dagangan bakso dan siomaynya. Di sisi timur tempatku berdiri ada loket pendaftaran. Cukup panjang antrinya. Aku mengamati bagaimana sih aturan mendaftar di sini. Cukup lama aku mengamati. Tapi ah akhirnya kuputuskan tidak jadi saja. Kelihatannya terlalu ribet.
Aku keluar lewat jalur selatan melewati beberapa pasien yang meringis kesakitan di atas ranjang yang sudah tidak muat di ruangan. Sehingga harus dipajang di jalan gang seperti dagangan kaki lima di pasar cakranegara. Wajah-wajah kosong dengan mata terpejam di atas ranjang itu sudah renta-renta. Ada yang meringis seperti menahan sakit yang luar biasa. Mulutnya terbuka tutup memperlihatkan gigi tuanya yang panjang dan kuning kecoklatan. Sepertinya dulunya dia itu perokok berat. Selang infus dan kantung urine menghiasi ranjang itu. Di sebelahnya ada seorang gadis muda menunggui dengan pakaian ketat sambil berbicara di HP. Mungkin itu cucunya. Ada lagi seorang inaq juga terkulai dengan selang infus di pegelangan tangannya. Mulutnya menganga menakutkan dan matanya terpejam. Mungkin dia sedang tidur atau malah pingsan. Kasihan sekali. Aku membayangkan jika nanti Allah menakdirkan aku berumur tua dan mati sakit di atas pembaringan. Seperti itu ya? Ah aku langsung berdoa: Ya Allah lebih baik aku mati syahid berdarah-darah terkena rudal Israel setelah membunuh dua ratus orang dari mereka dengan senjata M16 ku pada sebuah arena baku tembak. Atau sehabis memenggal lima puluh kepala mereka dalam duel dengan pedang daripada menahan sakit yang lama terhina di atas ranjang ”pajangan” di bangsal Rumah Sakit Umum. Akhirnya kutinggalkan RSU setelah membayar parkir lima ratus perak kepada tukang parkir RSU yang sudah berambut putih. Dari tadi dia ngomel-ngomel saja entah siapa yang diomeli.
Aku memacu vespaku ke RSI (Rumah Sakit Islam) dengan harapan mendapatkan pelayanan lebih baik dan nyaman. Jalan protokol bernama jalan Pejanggik ini terlihat seperti biasa ramainya. Cuma ada yang kurang baik di sebelah timur RSU ada jalan menuju ke utara yang seringkali dari situ muncul kendaraan melawan jalur satu arah jalan Pejanggik beberapa meter untuk menyeberang ke arah selatan. Ini adalah sebuah perempatan yang tidak segaris karena dua arah tidak lurus melainkan melenceng persis seperti susunan batu bata tembok rumah. Kadang-kadang ada juga oknum polantas di situ mencari ”nafkah” dari pelanggar yang melawan jalur itu.
Ketika aku masuk ke RSI langsung kulihat poiklinik di dekat ruang UGD. Ruang pendaftarannya nyaman ber AC. Namun tidak ada orang di situ. Ketika kupanggil dari sebuah ruangan di belakangnya yang dari tadi terdengar suara orang bercanda. Muncul seorang lelaki dan menanyakan maksud kedatanganku. Ketika kusampaikan hajatku, dia menjawab: ”Wah maaf Pak poli THT di sini hanya melayani pasien rawat inap dan dokternya pun akan kita panggil sesuai kebutuhan pada waktu yang tidak terikat. Kalau jam segini mereka ada di RSU. Kalau sore mereka di tempat prakteknya”. Kulihat di dinding tertulis nama-nama dokter THT yang sama dengan dokter THT RSU dan dokter THT yang pernah kudatangi di tempat prakteknya. Ah ternyata dunia luasnya hanya selembar daun kelor. Aku bingung kenapa RSI tidak punya dokter THT sendiri? Apa tak cukup uang bayar gajinya atau memang di lombok sangat langka dokter THT? Akhirnya aku kembali menjelma menjadi rakyat jelata menuju RSU.
Pukul sepuluh empat puluh menit aku parkir lagi di RSU. Langsung saja aku menuju loket 19A tempat pendaftaran, aku mengantri cukup panjang. Kulihat di dalam loket ada tiga orang wanita ibu-ibu yang berfungsi sebagai pelayan loket. Yang satu dari mereka berjilbab. Yang dua orang menor sekali, sepertinya wajah mereka habis dibedaki dengan tepung terigu. Lalu alisnya dicukur diganti dengan coretan pensil alis memanjang seperti pemain teater cina. Yang satu berlipstik merah menyala seperti saos tomat yang dipoles di atas pentol daging bakso akh Yuli. Yang satu lagi berwana merah kehitaman seperti darah ikan yang mati yang disimpan di dalam kulkas tiga hari.
”Liaaaaaa…” hardiknya memanggil pendaftar di depanku. ”Alamatnya di mana? ” tanyanya. ”Gerung mbak” jawab sang pendaftar. Kemudian pemain teater cina itu diam seperti menulis sesuatu. Lalu dia menghardik lagi dengan keras sampai aku tak bisa membedakan antara bibirnya dengan mulut busi vespaku ketika di cek pengapiannya. Meletup-letup dan memercik api yang menghasilkan listrik 5000 volt: ”Hei ibu, tadi saya tanya alamatnya dimanaaaaaaaa, gak dengar ya?” orang itu menjawab tak mau kalah ”Geruuuuuung ibu” mungkin dia juga emosi karena sudah mengantri lama. Aneh aku saja yang jaraknya lebih jauh mendengar jawaban pendaftar tadi. Apa pemain teater cina itu terlalu mendalami perannya dan sedang mengingat-ingat skenario sutradaranya sehingga tidak mendengar. Memang lagaknya itu ”pembualannya” minta ampun, seperti seorang sipir penjara saja. Padahal layaknya seorang costumer service pada umumnya harusnya berlaku sopan seperti sales asuransi atau resepsionis hotel. Antara dia dan teller bank BNI seperti warna pada kotak papan catur. Ada yang hitam dan ada yang putih.
Giliran aku mendaftar. ”Saya pasien baru bu” ujarku mendaftarkan diri. ”Ke loket 4 dulu Pak ambil karcis. ”Ok, trims” ujarku sambil berbalik mencari loket 4. Bayangkan setelah mengantri cukup lama aku hanya mendapatkan kalimat: ”Ke loket 4 dulu Pak ambil karcis. ” Kunikmati saja peranku sebagai rakyat jelata.
Tiba di depan ruangan yang di atasnya tertulis besar LOKET 4 aku tundukkan kepala ke sebuah celah kecil di jendela loket. ”Permisi pak mau daftar” aku menyapa orang di dalam. ”Di sebelah barat pak, lewat samping” suara dari dalam menyahut. Aih aku mau berobat kok harus mutar-mutar dulu. Sampai di samping aku membeli karcis Rp.10.500. Ada dua lembar kertas warna hijau dan kuning. Di situ tertulis keputusan Gubernur NTB. Kubayar uang pas. Aku khawatir kalau dikasih uang Rp.11.000 dibilang tidak ada kembalian. Seperti beli tiket di pelabuhan feri kayangan dan poto tano bayar tiker Rp.13.000 tidak dikembalikan 500nya padahal harga tiket Rp.12.500. Bayangkan 500 perak dikali 100 0rang penumpang sudah 50 ribu dia tilep 1 hari. Padahal satu hari bisa lebih dari 500 orang. Belum lagi kalau kita tidak jeli, dikasih tiket bekas yang belum disobek karena kadang penumpang disuruh masuk saja tanpa mendapat sobekan tiket. Atau bahkan hanya dikasih tiket yang sudah sobek. Oh negeriku…….mau jadi apa dikau nanti? Aku kembali ke loket 19A dan mengantri panjang lagi. Setelah hampir 15 menit akhirnya namaku dipanggil dan setelah diproses sekitar satu menit barulah aku diberi kartu rawat jalan dan kartu pasien. Lalu oleh si pemain teater cina aku disuruh ke ruang 6 yaitu poli THT.
Di dalam poli THT aku disambut ramah. Alhamdulillah ruangannya ber AC. Setelah kujelaskan penyakitku dan kronologinya lalu telingaku diperiksa semua oleh seorang dokter lelaki muda didampingi beberapa asisten perawatnya. ”Wah telinga bapak bersih kok, tidak ada apa-apanya. Nanti kita periksa di dalam ya pak pakai audiometri mungkin bapak mengalami pengurangan pendengaran” dokter muda itu menjelaskan padaku. Aku disuruh keluar ruangan menunggu panggilan. Satu menit kemudian aku dipanggil. Aku masuk ke dalam ruangan agak ke dalam lagi. Di situ ada seorang dokter yang kelihatannya lebih senior. Setelah mendengar ceritaku dan memeriksa telingaku. Dokter itu tak banyak bicara langsung menulis resep sambil menerima panggilan di HP nya. Tampaknya ia sedang mendapat kiriman barang dan berbincang kepada penelpon untuk mengirim barang itu ke rumahnya. Kuperhatikan dokter itu, wah luar biasa keseimbangan otak kanan dan kirinya. Bayangkan ia berbincang di telepon dengan santai sambil matanya melihat ke kertas resep dan tangannya tak berhenti menulis. Selesai itu aku ke apotek dan membeli obat tetes telinga yang harus diteteskan 4X 1 hari 4 tetes. Jika tiga hari keluhan tak hilang aku harus kembali check.
Sejenak kemudian aku kembali mengawasi kesibukan manusia belum berubah. Kulangkahkan kaki meninggalkan RSU. Ketika kulewati pintu timur kubaca tulisan: ”Selamat berkunjung/ Have a nice visit/ Harap tenang”. A Nice visit? Apa ini ugkapan yag tepat? Hatiku bertanya kecil. Menurutku lebih baik diganti ”Get well soon atau semoga lekas sembuh.” Setiap kita tidak ingin tentunya berkunjung ke rumah sakit, karena kalau ke sana pasti ada yang sakit.
Mohon maaf kepada rekan dokter. Ada anekdot teman, katanya hati-hati dengan do’a seorang dokter. ”Kenapa?” tanyaku.” Kalau dokter berdo’a minta rizki yang banyak berarti bakal banyak orang yang sakit yang datang padanya he…he…he” jawab teman itu sambil tertawa. Kubilang ”Ah, enggak juga, ada lho dokter yang hidup dari dagang bakso dan sukses. Baksonya menyebar di seantero Jakarta dengan karyawan ratusan orang beberapa puluh tahun yang lalu. Sementara ia tetap membuka praktek gratis untuk masyarakat miskin. Sebuah pengabdian yang unik dan mengesankan. Ia mengobati dengan penuh kasih sayang dan berharap tidak banyak pasien yang datang. Untuk menghidupi diri dan keluarganya dia mendapat penghasilan murni dari usaha baksonya. Aku membacanya di sebuah artikel majalah ”Antarkita”, sebuah majalah internal karyawan PT. Trakindo Utama. Dokter itu adalah ayah dari pak Hamami, pendiri PT.Trakindo Utama.”
Pukul sebelas lima puluh tiga menit, kutinggalkan RSU. Si tukang parkir tua masih cemberut dan ngomel-ngomel sendiri. Ketika kuberi uang lima ribu rupiah. Ia bilang terimakasih dengan wajah datar dan kembali meniup pluitnya. Pyuh…satu jam di RSU begitu banyak cerita. Semoga telingaku tidak apa-apa, ini tanda kebesaran kuasanya, aku takut kepada Allah karena tidak ada tuhan selain Dia yang kuasa memberi dan mencabut nikmat pendengaran.
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Al-An’am : 46)

***

~ by ibnu ismail on January 10, 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.