Anakku Cerminku
Saat saya menikah enam tahun yang lalu, saya tidak tahu apa tujuan saya menikah. Pokoknya saya ingin menikah dan saya sudah punya calon isteri pilihan saya sendiri, pekerjaan saya sebagai mekanik alat berat pada sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan Selatan alhamdulillah berpenghasilan lumayan. Waktu itu usia saya relatif muda, dua puluh tiga tahun.
Dalam sebuah sesi acara resepsi pernikahan dengan nuansa adat Madura M.C memanggil saya dan menanyakan kepada saya secara tiba-tiba, “Mas Mul, apakah setelah pernikahan ini anda langsung merencanakan punya anak ?”
Saya agak bingung dan sekenanya dengan wajah yang di manis-maniske saya menjawab ; “Ya Insya Allah, kami ingin segera punya anak.” Serentak para undangan menyambut dengan tawa kecil. Kadang jika memutar ulang rekaman video acara itu saya malu sendiri. Dengan mengenakan baju adat madura berwarna merah menyala dan wajah lugu saja yang seolah hanya dipenuhi gigi karena selalu tersenyum polos, saya terlihat cengengesan.
Anyway, ternyata cengengesan itu menjadi kenyataan, Sembilan bulan kemudian isteri saya benar-benar melahirkan seorang bayi laki-laki yang lucu, wajahnya asli jiplakan ayahnya (saat saya menulis artikel ini dia sudah berumur lima tahun dan sedang bermain memanjati punggung saya yang sedang duduk di depan komputer).
Seorang “anak” ? Ya, saya masih takjub saat itu, hari itu berkenaan dengan hari terjadinya PHK massal di perusahaan saya bekerja. Namun dengan pesangon yang lumayan dan kehadiran sang buah hati menjadikan musibah itu tak begitu terasa. Untuk namanya, isteri saya sudah mempersiapkannya semenjak belum menikah. Saya manut aja, lagian nama itu bagus, Luqman ? Yah nama seorang tokoh bijak yang diabadikan Allah dalam kitabNya.
Ba’da PHK tiga bulan kemudian saya diterima di sebuah perusahaan tambang tembaga di pulau Sumbawa, kami pun boyongan ke Pulau Lombok, NTB. Tahun demi tahun berlalu begitu saja, dua tahun di Pulau Lombok, saya mengenal dakwah islamiyah yang begitu menyentuh dan membawa perubahan drastis. Konsep pendidikan anak pun berubah total dari metode terapi musik klasik kepada terapi murrotal Al-Qur’an, dari lagu-lagu anak pada umumnya kepada nasyid-nasyid perjuangan.
Seperti fitrahnya, tabi’at anak mengikuti yang dicontohkan ortunya. Saya pun selalu berusaha memberi contoh, nasihat, cerita-cerita heroik pahlawan islam. Mulai dari shalat berjamaah di masjid, berdakwah, dan bermain perang-perangan. Walhasil anak saya itu menjadi mujahid minded. Suatu ketika ba’da shalat isya di masjid saya terkejut bercampur haru dan kagum ketika tiba-tiba anak kesayangan saya itu men”taujih” teman sepermainannya : “Hai Ical, kalau kau ingin masuk surga yang banyak mainan yang kau sukai, maka berjihadlah dan mati syahidlah !” (saya memang memotivasinya sesuai dengan jiwa kekanakannya bahwa di surga banyak mainan mobil-mobilan, dsb) Saya pun tersenyum bangga ternyata anak saya pun da’i minded. Namun beberapa menit kemudian keadaan berubah. Tiba-tiba si mujahid kecil berjalan melewati para asatidz, tokoh-tokoh masyarakat dan ta’mir masjid sambil mengeluarkan sesuatu”…..Tuutt…tuut…truuuuuth….!!” Orang-orang yang dilewati terperangah mesem-mesem kompak menoleh ke arah saya dan Ups, rasanya wajah saya membutuhkan kain penutup dan sekejap badan saya terasa mengecil karena malu. Rupanya ada satu hal yang lupa saya hilangkan dari aktivitas harian di dalam rumah di depan anak dan isteri. Sepele tapi berakibat cukup fatal. Beruntung yang diwarisi tidak termasuk aroma yang ditinggalkan, sang mujahid kesayangan masih bingung mengapa orang-orang tiba-tiba tertawa. Cengengesan, penuh dengan gigi yang tersenyum polos, persis dengan yang di acara resepsi.
