Surat Cinta buat Umi

picture-130.jpg

Juara 1 Lomba Menulis Surat Cinta, April 2005

Diselenggarakan oleh Bidang Kewanitaan DPW PKS NTB (juri: Ust. Cahyadi Takariawan)

Cahaya redup kamar sebuah rumah kontrakkan, 16 April 2005

Toek : Isteriku yang solihah di rumah

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Umi…..entah angin apa yang barusan berhembus, tiba-tiba tubuhku bangkit dan menghidupkan komputer, hatiku meronta-ronta ingin segera dikeluarkan isinya. Sejenak malam yang sedianya ingin menghantarkan mata ini untuk memejam, tiba-tiba mengurungkan niatnya. Wahai diri..! Ada yang harus engkau ungkapkan sebelum aku memejam, ungkapkanlah..! tulislah..! supaya aku tenang membenamkan kelopakku, begitu kira-kira mata ini seandainya ia bisa berkata-kata.

Akhirnya jari-jari ini mulai menari memencet tombol komputer tua pentium II second hand yang sudah sarat dengan file-file yang kita beli dari seorang akh satu setengah tahun yang lalu. Influenza yang membuat wajahku terasa berat tak sanggup melawan gejolak hati ini. Obat dokter yang barusan diambil di apotik pun tak sanggup mendatangkan kantuk, luar biasa energi ini, aku tak tahu dari mana asalnya, kurasa mungkin energi itu berasal dari fitrahku, ya, energi itu bernama “Cinta”.

Umi…!! Belum pernah aku merasakan cinta sedahsyat ini, setelah kelahiran putera kedua kita setelah penantiannya yang begitu lama, setelah berbagai upaya kita lakukan, dia belum kunjung datang, sampai ketika suatu saat abi berazzam kepada Zat yang maha agung: “Wahai Rabb, sesungguhnya aku akan mengambil cuti untuk berjihad di jalanMu, dalam kampanye putaran pertama tahun ini, aku akan kerahkan seluruh kemampuanku untuk memenangkan partaiMu ini, agar berkurang penderitaan bangsaku dari para koruptor dan dengan izinmu kelak mudah-mudahan ini menjadi awal tegaknya kalimatMu di muka bumi, Ya Allah kabulkan permohonanku ini jika aku sekarang berada di jalan dakwah yang engkau ridhai.” Padahal sedianya cuti itu akan kita pakai untuk istirahat dan pergi ke suatu tempat meninggalkan seluruh kesibukan untuk mengupayakan hadirnya si buah hati, begitulah nasihat dokter dan beberapa orang. Tibalah saat jihad itu, Ustadz Dahir melambaikan tangannya memanggil ke arah kendaraan pick up tua yang dicemooh oleh simpatisan partai lain yang memang mobil mereka lebih  bagus-bagus, perlahan-lahan mobil chevrolette tua itu menggulirkan rodanya, Gemuruh Takbir mengudara mewarnai suasana saat itu, entah kenapa hanya partai kita yang lantang bertakbir sementara mereka hanya berteriak Hidup…hidup…! Diiringi nasyid perjuangan shoutul harokah dan Ruhul Jadid mobil menyusuri pantai senggigi. Kami hampir saja syahid di tanjakan bukit Pemenang saat dengan susah payah mobil kami terhenti di tengah bukit dan berbalik mundur, hanya takbir yang menenangkan kami, akhirnya fase itu dapat dilewati juga. Aku teringat kepada umi, aku kembali berdo’a kepada Nya dengan berwasilah kepada jihad ini, Ya Rabb jika ini jalan dakwah yang benar engkau pasti mendengarkan do’aku, berilah aku seorang putera yang soleh.

Sebulan kemudian, setelah Pemilu Legislatif aku dikejutkan oleh teriakkan histeris umi yang baru keluar dari kamar mandi. Ternyata…. Indikator pada test kehamilan itu menunjukkan tanda Positif, Aku tersungkur sujud tak tahan membendung air mata, bukan terharu kepada kehadiran janin yang begitu lama dinanti, tapi rasa malu kepada Allah, ternyata saat ini detik ini betapa Allah begitu mengawasi kita, betapa Allah itu dekat sekali, ah aku tidak pantas menerima anugerah ini, ibadahku, pengorbananku, akhlakku, rasanya tidak mungkin menjadi asbab turunnya kasih sayangNya, karena masih banyak ikhwah lain yang lebih dariku.  Inilah hidayah… umi. Kita harus iltizam dengan dakwah ini, semoga Allah menjaga terus intima kita kepada dakwah ini hingga akhir hayat.  Sekelumit ingatan itu kembali membuatku menangis saat ini, saat aku menuliskannya di surat ini.  Kulihat kelelahan merona diwajah umi yang sedang tertidur dilantai diatas kertas-kertas berkas untuk rapat pertemuan ASMA besok siang, tidurlah sayang, engkau sudah mengurusku yang sedang sakit ini, mengurus anak-anak, dan seabrek aktivitas dakwahmu. Himpun tenagamu besok pagi kau harus berjihad lagi dalam Munashoroh untuk ikhwah Palestina, seandainya abi besok pagi sehat, insya Allah abi ikut Munashoroh.

Pandanganku kembali ke monitor komputer, melanjutkan menulis isi hati yang sudah hampir habis. Umi sayang “Mata Airku”  Bacalah dengan hatimu yang paling dalam kalimat ini: I love you fillah more than I’ve loved you fi Jahiliyah. Sayang sekali ya kita tidak menikah di jalan dakwah, mungkin karena kita dulu tidak membaca bukunya pak Cahyadi “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”. At least abi ingin mengatakan “Di Jalan Dakwah Rumah Tanggaku Berlayar Menuju Surga” Semoga kesolihahan umi  ini membuat bidadari di surga merah merona wajahnya karena cemburu, semoga Allah mempertemukan abi lagi kelak di surga dengan bidadari yang sama saat abi di dunia.

Ummiiiiiii…..tiba-tiba anak kita yang pertama terbangun memanggil umi, abi berhenti menulis dan menghampirinya sebelum umi terbangun kemudian abi  bertanya: Kenapa Nak? Abi… Kaka laper, jawabnya. Ah ternyata tadi dia tertidur sebelum sempat makan karena kita pergi ke dokter. “Sebentar sayang, abi gorengkan telor ya tadi umi tidak sempat masak karena sepulang dari TPA harus nganter abi ke dokter, afwan ya sayang!! Anak itu hanya mengangguk polos akhirnya dia makan dengan lahapnya disuapin abinya. Setelah itu dia deketin adiknya dan uminya lalu tidur kembali. Duhai umi sabarlah hidup bersamaku yah!! Abi bahagia punya isteri seperti umi. Kutengok jam sudah setengah dua belas, kemudian kutengok kasur tiga sosok berbeda posisi tidur tengah asyik dibuai mimpi. Kutarik nafas panjang dan kutengadahkan kepala: “Ya Allah Jadikanlah keluargaku ini keluarga Dakwah, jadikan anak-anakku da’i-da’i dan mujahid-mujahidMu yang tangguh, semoga mereka menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa.”

Abi sudahi surat ini dengan hamdalah “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin” Semoga Allah mengampuni kita.  

Min abi Sayang Mulhadi- Gunung Sari

~ by ibnu ismail on October 30, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.