Surat Cinta 2 (Hari Ibu)

•March 16, 2009 • 4 Comments

heart1

Blencong, 19 Desember 2008

Bismillahirrahmaanirrahiim…..

As.wr.wb

Sayangku….Tahukah engkau? Saat aku hendak menulis surat ini, bakda subuh, keadaanku teramat lelah dan mengantuk. Hujan yang mengguyuri kita kemarin saat aku memegang kemudi sekuter tua coklat kita yang dirakit tahun1990 itu membuatku mengeluarkan tenaga ekstra demi konsentrasi penuh dalam lalu lintas kota mataram yang carut-marut itu. Apalagi saat kita memasuki gang SDIT yang ada polisi tidurnya…hehe…aku harus menyebranginya dengan menyilang agar knalpot berkarat sekuter kesayangan kita itu tak dihantam oleh punggung si polisi tidur. Ngomong-ngomong sekuter kita tiada duanya di halaman parkir SDIT ya? Ia jika dibandingkan dengan sepeda motor terkini dan mobil dari kelas menengah ke atas ibarat sehelai uban di tengah kilauan rambut hitam. Merusak pemandangan…hihihi…Tapi tiada mengapalah sayangku memang keadaanya seperti itu. Aku belum sanggup membeli kendaraan yang lebih dari itu. Namun duduk di atasnya kadang terasa seperti di atas kuda sembrani tatkala membonceng dikau yang penuh cinta kesetiaan dan tak pernah mengeluh dengan sekuter yang sering susah di start karena karburatornya banjir atau businya kotor itu. Serasa aku ibarat Rama yang membonceng Shinta membawanya pulang dari cengkeraman Raksasa jahat. Sendal jepitku sampai berlubang bawahnya lantaran beradu dengan engkol starter yang harus diinjak berkali-kali jika mau menghidupkan sekuter. Tapi anehnya dua hari yang lalu sendal ajaib itu raib dicuri maling saat aku shalat Zuhur di masjid sebelah rumah pak Kirman. Heh…aku berang sekali, sempat kukejar maling sialan itu dan kukitari perumahan kita sampai pelosok-pelosoknya dengan mengendarai sekuter kita yang mengaum-aum laksana singa lapar. Namun maling itu tak kutemukan…oh airmataku hampir menetes meratapi sandal jepit saksi cinta kita itu. Sayangku…(menghela nafas panjang)…Aku mohon maaf atas sekuterku itu ya. Ingin rasanya aku menggantinya dengan mobil innova atau setidaknya Avanza atau Xenia. Karena puteri cantik sepertimu tak pantas terguncang-guncang di atas sekuter tua yang STNK nya mati karena lalai bayar pajak (ups…jangan dibaca nyaring yang ini). Apalagi diguyur hujan kemarin di jalanan. Sehingga engkau harus bersembunyi di belakang jas hujan biru kita. Kita berkendara seperti seekor barongsai orang Tionghoa yang mengamuk di jalanan karena ngebut, kita sudah terlambat ke tempat tujuan untuk menghadiri rapat di sekolah ananda kita. Tapi alhamdulillah ternyata rapat baru dimulai. Punggungku terasa berat karena mengemudi kemarin ke Kediri untuk menghadiri undangan aqiqah sahabat dan saudara kita Abu Fathan. Cukup jauh memang. Tapi seperti yang kau bilang menghadiri undangan saudara seiman selama kita mampu adalah wajib dan berfaedah untuk meraih barokah. Kalimatmu itu menyemangatiku dan menutupi kelelahanku. Oh senangnya jika mendengar hikmah dari lisanmu. Ia memang bisa mengusir lelah. Karena memang keluar dari hati yang penuh cinta. Sama ketika aku menulis surat ini, karena demi cinta pula lelah dan kantukku sirna berganti bait tulus ini.Sayangku….Terima kasih atas cintanya selama ini dan seterusnya ya. Terima kasih telah membesarkan tiga lelaki kecil kita. Terima kasih (ihik..ihiks…) karena kau telah berkorban meninggalkan karirmu yang menanjak di perusahaan swasta dan kau juga tak memedulikan ijazah australimu yang prestise itu dan diperbincangkan bule-bule ekspatriat di kantormu lantaran sangat mengaggumkan mereka. Andaikan kau tetap bekerja, mungkin sekarang kau telah menjadi manajer di perusahaan itu dan kita sudah punya kijang Innova. Tapi sekali lagi demi cintamu kepada anak-anak dan keinginan besar untuk membersamai mereka tiap dibutuhkan, engkau tak mau dibenturkan dengan jam kerja di kantor. Sehingga kau talak tiga pekerjaan itu. Oh….terima kasih sayangku….terima kasih…What a bloody lucky man I am?

Sayangku….selamat hari ibu….

Ayahku dan versi cintanya

•March 16, 2009 • Leave a Comment

Satu momen di atas lembaran masa kanak-kanakku…..

Ayahku

Ayahku

Sore itu hujan masih tersisa rintik-rintiknya. Aku dan kedua kakakku masih asyik bermain bola di lapangan bersama teman-teman kami. Berlarian mengejar bola, kemudian tertawa-tawa, berguling-guling di lumpur dan saling dorong. Mamak memanggil-manggil dengan nada marah melihat kami bermain lumpur. ”Hebat….anakku hebat…beriman…beruntung…bertuah…” teriaknya. Semarah-marahnya orangtua dahulu tak ada kata serapah yang keluar walau sedang marah. Tapi teriakan itu tak kami gubris, hehehe dasar anak bandel. Tak mempan teriakannya, mamak mengadu pada bapak. Tak lama bapak hanya berdiri saja memandang kami dari jauh. Aneh binti ajaib kami langsung ketakutan dan pulang berderet seperti bebek pulang ke kandang. Bapak tak pemarah, bahkan suka melucu kalau bercerita. Ia juga lelaki biasa yang miskin. Ia tak punya pekerjaan tetap. Kadang-kadang ia menghukum kami dengan cara disetrap, dengan caranya sendiri tentunya. Ada saja idenya bikin kami jera. Seperti sore itu, karena tak menghiraukan teriakan mamak, kami bertiga (semua laki-laki) dihukum. Bapak menutup pintu lalu memerintahkan kami berdiri tegap berjejer di atas kursi tamu yang agak panjang. Dia berpikir sejenak dan mulai memasang muka dingin. ”Buka celana kalian” perintahnya. Anehnya lagi walaupun dengan sesungukkan kami menurut saja perintahnya. Kulirik wajah kakakku yang tertua merah hidungnya karena menahan tangis dan malu. Aku sendiri megap-megap ketakutan. Tampaknya Bapak berhasil dengan wajah dinginnya membuat kami takut. Lalu bapak mengambil beberapa baterai bekas senter dan karet gelang. Dan oh…tidak….dalam sekejap baterai-baterai itu sudah terikat menggelantung pada tempat yang sakral dan memalukan. Tahu lah kau…tak usah dibahas apa maksudnya tempat sakral itu. Yang jelas tak ada satu pun yang berani berkata-kata saat itu. Tak lama bapak tak bisa menahan tawanya. Ia terkekeh-kekeh menyaksikan kami seperti seni manusia patung malin kundang dengan pose yang berbeda dengan aslinya. Kemudian tawa terkekeh-kekehnya itu berubah menjadi terpingkal-pingkal sampai gigi palsunya mau lepas. Bah kami dikerjain rupanya. Lalu kami akhiri kekonyolan itu dengan mengenakan kembali celana pendek kami lalu lari berhamburan ke arah bapak, kami pukuli bapak sekenanya sambil ikut tertawa-tawa. Ia menyerah dan akhirnya kami semua dipeluki dan diciumi ubun-ubun kami satu-persatu, baru diajak ke tempat tidur. Kami berebutan tidur di ketiaknya seperti anak-anak kucing berebut tetek ibunya. Saat itulah, ketika kami semua merasa telah mendapat hukuman atas kesalahan kami dan hati kami kembali nol bapak berpetuah: ”Anak-anakku yang kusayangi semuanya, jangan suka membantah mamak ya! Kasihan dia, tak tahukah kalian? mamak itu letih karena menjahit baju pesanan orang untuk memberi makan kalian. Bapak dan mamak kepingin kalian nanti jadi orang pintar yang soleh. Biar jadi insinyur, jadi dokter atau professor satu pesan bapak jangan tinggalkan sembahyang (sholat)”. Tak lama, mamak memanggil dari dapur: ”Anak-anak ini singkong gorengnya sudah matang, ayo kita makan rame-rame.” kami semua langsung berlarian, tak terkecuali bapak menyerbu singkong goreng mamak. Dalam sekejap singkong goreng yang makannya dengan cara mencoleknya pada sambal goreng kacang itu ludes tak bersisa. Lalu diakhiri dengan menyeruput teh panas yang sudah disediakan mamak. Sementara hujan kembali deras menimbulkan suara berisik karena butiran-butiran air yang menghantam atap seng rumah kami yang tak berplafon itu. Tak ada jingga di langit sore itu karena terhalang awan gelap. Kami merasakan ketentraman dan kebahagiaan. Bapak tak ingin kerja tetap yang penuh rutinitas karena itu akan menjadi penghalang kebersamaannya dengan keluarganya. Ia berbisnis serabutan, tapi alhamdulillah walaupun kami miskin dan mamak terpaksa harus ikut mencari nafkah dengan menerima jahitan baju, kami bisa melewati waktu bersama-sama dalam suka dan duka. Kedekatan kami kepada bapak membuahkan cinta yang menjadi alasan kenapa kami begitu menurut padanya. Ia adalah pribadi yang unik dan mengesankan. Hari ini saat kutulis ini tak bisa kulupakan ketika hipertensi yang membuatnya lumpuh selama tiga tahun setengah akhirnya merenggut nyawanya di saat aku sedang bekerja di rantau dalam rutinitas proyek pertambangan batubara. Aku tiba di rumah menjumpainya sudah tak bernyawa. Aku sangat menyesal tak bisa menghantarkannya dengan talkin. Kini aku terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang banyak menyita kehadiranku di tengah keluargaku, terutama anak-anakku. Aku telah kehilangan banyak kebersamaan dengan keluargaku. Aku bertekad dalam waktu dekat akan kutinggalkan pekerjaan tetap. Insya Allah, aku akan menjadi pebisnis yang punya banyak waktu bersama tiga anak lelakiku. Tapi bukan pebisnis serabutan seperti bapak. Insya Allah….Oh bapak, terima kasih atas ajaranmu tentang cinta. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu anhu wa adkhilhu jannatun na’im bi mardhotika ya Karim..

Me, my self & my family

•March 16, 2009 • Leave a Comment
me, my self & my family

me, my self & my family

Mungkin jadwal hari kerja saya ini tergolong langka di Indonesia. Saya bekerja pada sebuah perusahaan tambang tembaga di pulau Sumbawa dengan jadwal hari kerja empat hari bekerja dan empat hari libur. Artinya saya berada di lokasi tambang di pulau Sumbawa empat hari dan berada di pulau Lombok empat hari. Artinya saya berpisah dengan anak isteri empat hari dan berkumpul kembali empat hari. Artinya sampai hari ini bisa dikatakan lima puluh persen umur saya setelah menikah untuk “membersamai” keluarga dan lima puluh persen lagi di rantau orang. Asyik ya? Tiap pekan selalu merindui satu sama lain diantara kami sekeluarga dan belum terlalu rindu, empat hari berselang sudah bertemu kembali, disambut riang anak-anak di depan rumah. Dulu sebelum kami mengkredit sebuah rumah yang sekarang kami tinggali, setiap malam di kamar camp tempat saya bekerja di lokasi proyek tambang saya menghabiskan waktu rata-rata satu jam menelpon rumah bercengkerama dengan keluarga. Itu pun terasa kurang bagi saya. Kelelahan saya bekerja non stop dua belas jam dalam sehari hilang seketika saat mendengar anak-anak bercerita pengalamannya hari itu. Ponsel saya sampai terasa hangat di telinga sehangat cinta kasih isteri saya yang selalu sabar menjalani lima puluh persen hidupnya tanpa jasad saya di sisinya. Sekarang saat mencicil rumah terpaksa anggaran telpon dialihkan sebagian untuk cicilan rumah. Kami lebih banyak sms-an saja jadinya. Wah sejak saat itu saya sering merasakan kerinduan yang membuncah-buncah. Aduhai apa mau dikata hidup memang selalu ada saja perubahannya. Kalau sudah begini kadang saya merasa bosan dan ingin segera pindah kerja saja yang jadwal kerjanya pergi pagi pulang sore berkumpul keluarga. Apalagi “alhamdulillah” beberapa tahun terakhir ini saya dan isteri ditakdirkan Allah menjadi bagian dari penggiat dakwah. Serta-merta saya harus banyak menginfakkan sesuatu yang saya cintai melebihi dari kecintaan saya kepada harta benda saya, yaitu waktu bersama keluarga di hari libur. Kini prosentase hidup saya menjadi terbagi lagi. Lima puluh persen untuk kerja di rantau orang, dan yang lima puluh persen lagi di bagi dua untuk keluarga dan untuk dakwah. Terkadang untuk keluarga hanya kebagian sepuluh persen saja jika saat itu beban dakwah yang diamanahkan sedang banyak. Sepuluh persen itu masih dipotong tidur di malam hari. Tapi pada kadang yang lain juga mungkin Allah kasihan pada kami, ada saja waktu luang yang bisa kami manfaatkan di celah-celah aktivitas dakwah. Jika ada rejeki, kami menyewa satu kamar hotel berbintang di kawasan pantai Senggigi pulau Lombok nan indah ini. Satu hari satu malam saja. Lumayan lah melepas lelah dan rindu bersama-sama sambil menikmati sunset di ujung laut. Ini bukan lari dari dakwah. Bukankah membahagiakan anak dan isteri juga sunnah Rasul? Bahkan Allah pun memerintahkan “Dan bergaullah dengan mereka secara patut” (Q.S 4:19). Hanya saja kita harus pandai mengatur waktu dan prioritas amal kita. Pada suatu ketika kami dihadapkan pada aktivitas dakwah yang cukup padat dari pagi sampai jam sebelas malam. Sementara saat itu anak sulung kami yang duduk di bangku kelas dua sebuah Sekolah Dasar Islam terpadu di Lombok akan ulangan di sekolah besok paginya. Hampir tidak ada waktu untuk mendampingi anak kami itu belajar. Dia sempat protes dengan kegiatan kami dan tidak mau belajar didampingi oleh salah seorang akhwat binaan teman dakwah kami yang kebetulan guru ngajinya juga. Biasanya isteri saya mereview buku-buku latihannya selama satu smester terakhir dan membuat lembaran soal dengan komputer lalu di print dan diberikan kepada anak kami tersebut sebagai bahan latihan dia untuk menghadapi ulangan. Isteri saya dengan sabar mendampingi dan membimbingnya. Kali ini isteri saya hanya sempat membuatkan soal latihan dan di print satu jam menjelang magrib. Baru sempat mendamping beberapa menit kami sudah harus berangkat ke sebuah hotel di mana ada acara konsolidasi dakwah dengan para qiyadah dakwah dari Jakarta sampai larut malam. Al hasil anak kami tidak maksimal belajarnya. Apakah dakwah yang salah? Tidaklah, kami saja yang kurang bisa menata waktu. Itulah jawaban husnuzhan kami kepada Allah. Anak-anak tidak mau tidur sebelum bermain dengan saya malam itu. Tidak mau juga belajar. Saya pulang jam setengah dua belas malam. “Ah anak-anak menuntut haknya bermain dengan abinya. Saya harus memenuhi hak mereka” pikir saya dalam hati. Walaupun lelah akhirnya saya ladeni juga mereka. Anehnya rasa lelah saya kok hilang ya. Kami begitu gembira melewatkan malam saat itu. Tak terasa sudah jam setengah satu malam. Wah bisa-bisa besok pagi terlambat bangun nih. Akhirnya saya ajak tidur anak-anak dengan bijak. Karena hak-haknya sudah terpenuhi dan kelihatannya mereka juga sudah mengantuk maka tidaklah sulit menyuruh mereka tidur. Akhirnya ketiga anak saya pulas dengan posisi tidur yang berbeda-beda. Si ummi sudah duluan terbang ke alam mimpi dari tadi. Tapi sebelum tidur saya sempat membuat perjanjian pada anak saya untuk belajar besok sesudah shalat subuh. Subuhnya alhamdulillah saya dan anak saya bisa takbiratul ihram bersama imam di masjid. Sepulangnya dia langsung belajar dengan uminya. Saya sendiri membaca al ma’tsurat dibelakang istri saya sambil memijiti punggungnya yang lelah. Di luar sana pagi hari sudah mulai terang dan kicau burung semakin ramai.

1 Jam di RSU Mataram

•January 10, 2008 • Leave a Comment

Kupacu vespa butut tahun 90 ku meninggalkan kantor DPW PKS NTB di jalan Majapahit mataram sehabis mengantar isteriku rapat. Suara vespa bermesin “dua tak” itu meraung kecil memecah udara panas di musim hujan kota Mataram awal bulan januari 2008. Tak tahulah sudah, berapa persen kadar emisi dari knalpot motor tua yang sudah tak diproduksi lagi itu berkontribusi mem ”polusiudarakan” lalu lintas kota. Bunga-bunga lamtoro terlihat di sisi-sisi jalan Majapahit indah menawan. Jingga warnanya bak sakura Jepang di musim semi. Tujuanku saat itu adalah RSU Mataram, poliklinik THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Entah kenapa habis berenang bersama keluarga pekan yang lalu pendengaran sebelah kananku seperti tersumbat. Sudah pun kubersihkan kotorannya, namun telingaku semakin gatal-gatal. Benci sekali rasanya kalau pendengaran tidak beres. Kalau bicara dengan orang atau menelpon aku terpaksa memakai telinga kiriku. Ribet. Sebenarnya aku juga khawatir jangan-jangan pendengaranku memang berkurang alias tuli dengan prosentase ketulian tingkat minor. Karena pada dasarnya masih bisa mendengar sih, hanya saja berkurang. Bisa saja itu terjadi, soalnya aku bekerja di bengkel alat berat dengan tingkat kebisingan di atas 80dB (Desibel). Artinya di atas ambang batas kemampuan telinga manusia menahan getaran suara bising.
Raungan knalpot vespa bututku tidak ada apa-apanya dibandingkan suara ”kentut” knalpot satu buah dump truk raksasa dengan berat operasi 250 ton. Dengan frekuensi getaran suara ribuan Hz tanpa alat pelindung pendengaran (Ear plug atau ear map) dalam waktu yang terus-menerus maka kemampuan dengar bisa berkurang. Makanya pengecekkan tahunan harus dilakukan. Kebisingan memang bahaya laten. Tapi jangan sampai ketulian ini menjadi awal dari ketulian yang sesungguhnya. …”dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (Q.S Al-A’raf : 179. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.
Pukul sepuluh lebih dua puluh menit aku tiba di halaman parkir RSU Mataram. Aku masuk lewat pintu timur tempat pegawai RSU biasa masuk. Aku sengaja lewat situ karena tidak tahu di mana letak poliklinik THT di Rumah Sakit sebesar itu. Sekalian aku ingin mencoba berperan sebagai seorang rakyat miskin yang kepingin berobat di RSU. Apa saja yang harus mereka lalui sebelum berobat. Alhamdulillah aku diberi nikmat menjadi seorang buruh tambang tembaga Amerika di Sumbawa. Posisi ini sesungguhnya memungkinkan aku mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik di klinik-klinik atau praktek dokter yang ada di Mataram. Karena semua biaya pengobatan ditanggung Perusahaan. Tapi kali ini Aku ingin merasakan bagaimana orang-orang miskin berjuang mendapatkan pelayanan pengobatan. Supaya aku betul-betul merasakan arti syukur yang sesungguhnya. Dengan membandingkan keadaan diriku dan orang lain.
Di pintu masuk kulihat ada sekuriti RSU sedang mengobrol dengan beberapa lelaki yang berseragam dan yang tidak berseragam pegawai. Mereka asyik masyuk bercengkerama ngalor ngidul sambil menghisap rokok. Sang sekuriti alias satpam tiba-tiba berseloroh di depan seorang ibu-ibu bertubuh kecil agak genit berseragam pegawai RSU: ”Hai cewek…” ibu itu nyengir tersenyum menandakan bahwa mereka sudah saling kenal. ”Biar muda atau tua, kan juga cewek..Ha…ha…ha” si satpam terbahak-bahak membuatku jengkel dengan humor tak bermutunya itu.
Sepanjang lorong dan gang-gang RSU kujumpai perawat yang sibuk hilir mudik. Yang wanita kebanyakan berjilbab. Ada yang bersenda gurau cekikikan sambil membawa map-map di dadanya solah-olah mereka adalah mahasiswi-mahasiswi yang habis keluar dari kelas yang diajar oleh dosen berwajah mirip Tom Cruise, aktor Holliwood kondang. Girang sekali kelihatannya. Mereka tak tersentuh dengan wajah suram dan sedih seorang inaq (panggilan lombok untuk ibu-ibu kampung) yang berjalan kelelahan mengitari rumput di samping gang sambil menjemur sarung dan kainnya di atas rumput. Tampaknya ia kurang tidur semalam. Mungkin ia begadang mendampingi orang yang dicintainya yang tergeletak di kamar padat pasien kelas C yang mirip tempat pengungsian korban gempa bumi, saking banyaknya dan nyaris tanpa privacy.
Di depan bangsal itu duduk-duduk keluarga pasien menggelar tikar. Ada pula yang merokok, karena memang tidak ada larangan merokok. Sementara di kepala si inaq dibebani pikiran hutang dan berapa biaya obat yang harus ditebusnya. Apa semua bisa diatasi dengan kartu Miskin? Ah sebuah ekspresi cinta yang tak diperhitungkan khalayak di sekitarnya. Ia sibuk dengan kesunyian cintanya sendiri.
Di tembok rendah di sisi gang yang memang di disain sebagai tempat duduk-duduk terlihat beberapa manusia sibuk dengan agenda pembicaraan mereka masing-masing. Ada seorang pegawai RSU yang berjilbab duduk-duduk bersama temannya dengan wajah tak bercahaya. Sepertinya ia baru saja curhat dengan temannya itu sehabis bertengkar dengan suaminya gara-gara berebut remote control TV. Ketika aku lewat matanya terlihat penuh kebencian memelototi aku. Mungkin baginya semua laki-laki di dunia ini sama saja egoisnya. Kubaca satu per satu petunjuk keterangan nama-nama tempat yang tertera di atas langit-langit gang. Sampailah aku ke bagian poliklinik. Masya Allah di sini manusianya lebih banyak. Mirip pasar kebon roek di sore hari.
Di perempatan gang aku terpaku memandangi manusia-manusia hilir mudik. Di arah barat komplek Poliklinik, ada poli anak, poli gigi, poli jantung dan paru, poli THT dan poli-poli yang lain kecuali politeknik atau poligami. Di sebelah utara ada apotik, di sebelah selatan adalah akses ke kantin sekaligus jalan keluar. Di kantin itu samar-samar terlihat bayangan akh Yuli,Saudara seperjuangan dalam dakwah sibuk dengan dagangan bakso dan siomaynya. Di sisi timur tempatku berdiri ada loket pendaftaran. Cukup panjang antrinya. Aku mengamati bagaimana sih aturan mendaftar di sini. Cukup lama aku mengamati. Tapi ah akhirnya kuputuskan tidak jadi saja. Kelihatannya terlalu ribet.
Aku keluar lewat jalur selatan melewati beberapa pasien yang meringis kesakitan di atas ranjang yang sudah tidak muat di ruangan. Sehingga harus dipajang di jalan gang seperti dagangan kaki lima di pasar cakranegara. Wajah-wajah kosong dengan mata terpejam di atas ranjang itu sudah renta-renta. Ada yang meringis seperti menahan sakit yang luar biasa. Mulutnya terbuka tutup memperlihatkan gigi tuanya yang panjang dan kuning kecoklatan. Sepertinya dulunya dia itu perokok berat. Selang infus dan kantung urine menghiasi ranjang itu. Di sebelahnya ada seorang gadis muda menunggui dengan pakaian ketat sambil berbicara di HP. Mungkin itu cucunya. Ada lagi seorang inaq juga terkulai dengan selang infus di pegelangan tangannya. Mulutnya menganga menakutkan dan matanya terpejam. Mungkin dia sedang tidur atau malah pingsan. Kasihan sekali. Aku membayangkan jika nanti Allah menakdirkan aku berumur tua dan mati sakit di atas pembaringan. Seperti itu ya? Ah aku langsung berdoa: Ya Allah lebih baik aku mati syahid berdarah-darah terkena rudal Israel setelah membunuh dua ratus orang dari mereka dengan senjata M16 ku pada sebuah arena baku tembak. Atau sehabis memenggal lima puluh kepala mereka dalam duel dengan pedang daripada menahan sakit yang lama terhina di atas ranjang ”pajangan” di bangsal Rumah Sakit Umum. Akhirnya kutinggalkan RSU setelah membayar parkir lima ratus perak kepada tukang parkir RSU yang sudah berambut putih. Dari tadi dia ngomel-ngomel saja entah siapa yang diomeli.
Aku memacu vespaku ke RSI (Rumah Sakit Islam) dengan harapan mendapatkan pelayanan lebih baik dan nyaman. Jalan protokol bernama jalan Pejanggik ini terlihat seperti biasa ramainya. Cuma ada yang kurang baik di sebelah timur RSU ada jalan menuju ke utara yang seringkali dari situ muncul kendaraan melawan jalur satu arah jalan Pejanggik beberapa meter untuk menyeberang ke arah selatan. Ini adalah sebuah perempatan yang tidak segaris karena dua arah tidak lurus melainkan melenceng persis seperti susunan batu bata tembok rumah. Kadang-kadang ada juga oknum polantas di situ mencari ”nafkah” dari pelanggar yang melawan jalur itu.
Ketika aku masuk ke RSI langsung kulihat poiklinik di dekat ruang UGD. Ruang pendaftarannya nyaman ber AC. Namun tidak ada orang di situ. Ketika kupanggil dari sebuah ruangan di belakangnya yang dari tadi terdengar suara orang bercanda. Muncul seorang lelaki dan menanyakan maksud kedatanganku. Ketika kusampaikan hajatku, dia menjawab: ”Wah maaf Pak poli THT di sini hanya melayani pasien rawat inap dan dokternya pun akan kita panggil sesuai kebutuhan pada waktu yang tidak terikat. Kalau jam segini mereka ada di RSU. Kalau sore mereka di tempat prakteknya”. Kulihat di dinding tertulis nama-nama dokter THT yang sama dengan dokter THT RSU dan dokter THT yang pernah kudatangi di tempat prakteknya. Ah ternyata dunia luasnya hanya selembar daun kelor. Aku bingung kenapa RSI tidak punya dokter THT sendiri? Apa tak cukup uang bayar gajinya atau memang di lombok sangat langka dokter THT? Akhirnya aku kembali menjelma menjadi rakyat jelata menuju RSU.
Pukul sepuluh empat puluh menit aku parkir lagi di RSU. Langsung saja aku menuju loket 19A tempat pendaftaran, aku mengantri cukup panjang. Kulihat di dalam loket ada tiga orang wanita ibu-ibu yang berfungsi sebagai pelayan loket. Yang satu dari mereka berjilbab. Yang dua orang menor sekali, sepertinya wajah mereka habis dibedaki dengan tepung terigu. Lalu alisnya dicukur diganti dengan coretan pensil alis memanjang seperti pemain teater cina. Yang satu berlipstik merah menyala seperti saos tomat yang dipoles di atas pentol daging bakso akh Yuli. Yang satu lagi berwana merah kehitaman seperti darah ikan yang mati yang disimpan di dalam kulkas tiga hari.
”Liaaaaaa…” hardiknya memanggil pendaftar di depanku. ”Alamatnya di mana? ” tanyanya. ”Gerung mbak” jawab sang pendaftar. Kemudian pemain teater cina itu diam seperti menulis sesuatu. Lalu dia menghardik lagi dengan keras sampai aku tak bisa membedakan antara bibirnya dengan mulut busi vespaku ketika di cek pengapiannya. Meletup-letup dan memercik api yang menghasilkan listrik 5000 volt: ”Hei ibu, tadi saya tanya alamatnya dimanaaaaaaaa, gak dengar ya?” orang itu menjawab tak mau kalah ”Geruuuuuung ibu” mungkin dia juga emosi karena sudah mengantri lama. Aneh aku saja yang jaraknya lebih jauh mendengar jawaban pendaftar tadi. Apa pemain teater cina itu terlalu mendalami perannya dan sedang mengingat-ingat skenario sutradaranya sehingga tidak mendengar. Memang lagaknya itu ”pembualannya” minta ampun, seperti seorang sipir penjara saja. Padahal layaknya seorang costumer service pada umumnya harusnya berlaku sopan seperti sales asuransi atau resepsionis hotel. Antara dia dan teller bank BNI seperti warna pada kotak papan catur. Ada yang hitam dan ada yang putih.
Giliran aku mendaftar. ”Saya pasien baru bu” ujarku mendaftarkan diri. ”Ke loket 4 dulu Pak ambil karcis. ”Ok, trims” ujarku sambil berbalik mencari loket 4. Bayangkan setelah mengantri cukup lama aku hanya mendapatkan kalimat: ”Ke loket 4 dulu Pak ambil karcis. ” Kunikmati saja peranku sebagai rakyat jelata.
Tiba di depan ruangan yang di atasnya tertulis besar LOKET 4 aku tundukkan kepala ke sebuah celah kecil di jendela loket. ”Permisi pak mau daftar” aku menyapa orang di dalam. ”Di sebelah barat pak, lewat samping” suara dari dalam menyahut. Aih aku mau berobat kok harus mutar-mutar dulu. Sampai di samping aku membeli karcis Rp.10.500. Ada dua lembar kertas warna hijau dan kuning. Di situ tertulis keputusan Gubernur NTB. Kubayar uang pas. Aku khawatir kalau dikasih uang Rp.11.000 dibilang tidak ada kembalian. Seperti beli tiket di pelabuhan feri kayangan dan poto tano bayar tiker Rp.13.000 tidak dikembalikan 500nya padahal harga tiket Rp.12.500. Bayangkan 500 perak dikali 100 0rang penumpang sudah 50 ribu dia tilep 1 hari. Padahal satu hari bisa lebih dari 500 orang. Belum lagi kalau kita tidak jeli, dikasih tiket bekas yang belum disobek karena kadang penumpang disuruh masuk saja tanpa mendapat sobekan tiket. Atau bahkan hanya dikasih tiket yang sudah sobek. Oh negeriku…….mau jadi apa dikau nanti? Aku kembali ke loket 19A dan mengantri panjang lagi. Setelah hampir 15 menit akhirnya namaku dipanggil dan setelah diproses sekitar satu menit barulah aku diberi kartu rawat jalan dan kartu pasien. Lalu oleh si pemain teater cina aku disuruh ke ruang 6 yaitu poli THT.
Di dalam poli THT aku disambut ramah. Alhamdulillah ruangannya ber AC. Setelah kujelaskan penyakitku dan kronologinya lalu telingaku diperiksa semua oleh seorang dokter lelaki muda didampingi beberapa asisten perawatnya. ”Wah telinga bapak bersih kok, tidak ada apa-apanya. Nanti kita periksa di dalam ya pak pakai audiometri mungkin bapak mengalami pengurangan pendengaran” dokter muda itu menjelaskan padaku. Aku disuruh keluar ruangan menunggu panggilan. Satu menit kemudian aku dipanggil. Aku masuk ke dalam ruangan agak ke dalam lagi. Di situ ada seorang dokter yang kelihatannya lebih senior. Setelah mendengar ceritaku dan memeriksa telingaku. Dokter itu tak banyak bicara langsung menulis resep sambil menerima panggilan di HP nya. Tampaknya ia sedang mendapat kiriman barang dan berbincang kepada penelpon untuk mengirim barang itu ke rumahnya. Kuperhatikan dokter itu, wah luar biasa keseimbangan otak kanan dan kirinya. Bayangkan ia berbincang di telepon dengan santai sambil matanya melihat ke kertas resep dan tangannya tak berhenti menulis. Selesai itu aku ke apotek dan membeli obat tetes telinga yang harus diteteskan 4X 1 hari 4 tetes. Jika tiga hari keluhan tak hilang aku harus kembali check.
Sejenak kemudian aku kembali mengawasi kesibukan manusia belum berubah. Kulangkahkan kaki meninggalkan RSU. Ketika kulewati pintu timur kubaca tulisan: ”Selamat berkunjung/ Have a nice visit/ Harap tenang”. A Nice visit? Apa ini ugkapan yag tepat? Hatiku bertanya kecil. Menurutku lebih baik diganti ”Get well soon atau semoga lekas sembuh.” Setiap kita tidak ingin tentunya berkunjung ke rumah sakit, karena kalau ke sana pasti ada yang sakit.
Mohon maaf kepada rekan dokter. Ada anekdot teman, katanya hati-hati dengan do’a seorang dokter. ”Kenapa?” tanyaku.” Kalau dokter berdo’a minta rizki yang banyak berarti bakal banyak orang yang sakit yang datang padanya he…he…he” jawab teman itu sambil tertawa. Kubilang ”Ah, enggak juga, ada lho dokter yang hidup dari dagang bakso dan sukses. Baksonya menyebar di seantero Jakarta dengan karyawan ratusan orang beberapa puluh tahun yang lalu. Sementara ia tetap membuka praktek gratis untuk masyarakat miskin. Sebuah pengabdian yang unik dan mengesankan. Ia mengobati dengan penuh kasih sayang dan berharap tidak banyak pasien yang datang. Untuk menghidupi diri dan keluarganya dia mendapat penghasilan murni dari usaha baksonya. Aku membacanya di sebuah artikel majalah ”Antarkita”, sebuah majalah internal karyawan PT. Trakindo Utama. Dokter itu adalah ayah dari pak Hamami, pendiri PT.Trakindo Utama.”
Pukul sebelas lima puluh tiga menit, kutinggalkan RSU. Si tukang parkir tua masih cemberut dan ngomel-ngomel sendiri. Ketika kuberi uang lima ribu rupiah. Ia bilang terimakasih dengan wajah datar dan kembali meniup pluitnya. Pyuh…satu jam di RSU begitu banyak cerita. Semoga telingaku tidak apa-apa, ini tanda kebesaran kuasanya, aku takut kepada Allah karena tidak ada tuhan selain Dia yang kuasa memberi dan mencabut nikmat pendengaran.
Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah, bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga). (Al-An’am : 46)

***

Anakku Cerminku

•January 9, 2008 • Leave a Comment

im000371.jpg

Saat saya menikah enam tahun yang lalu, saya tidak tahu apa tujuan saya menikah. Pokoknya saya ingin menikah dan saya sudah punya calon isteri pilihan saya  sendiri, pekerjaan saya sebagai mekanik alat berat pada sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan Selatan alhamdulillah berpenghasilan lumayan. Waktu itu usia saya relatif muda, dua puluh tiga tahun.

Dalam sebuah sesi acara resepsi pernikahan dengan nuansa adat Madura M.C memanggil saya dan menanyakan kepada saya secara tiba-tiba, “Mas Mul, apakah setelah pernikahan ini anda langsung merencanakan punya anak ?”

Saya agak bingung dan sekenanya dengan wajah yang di manis-maniske saya menjawab ; “Ya Insya Allah, kami ingin segera punya anak.” Serentak para undangan menyambut dengan tawa kecil. Kadang jika memutar ulang rekaman video acara itu saya malu sendiri. Dengan mengenakan baju adat madura berwarna merah menyala dan wajah lugu saja yang seolah hanya dipenuhi gigi karena selalu tersenyum polos, saya terlihat cengengesan.

Anyway, ternyata cengengesan itu menjadi kenyataan, Sembilan bulan kemudian isteri saya benar-benar melahirkan seorang bayi laki-laki yang lucu, wajahnya asli jiplakan ayahnya (saat saya menulis artikel ini dia sudah berumur lima tahun dan sedang bermain memanjati punggung saya yang sedang duduk di depan komputer).

Seorang “anak” ? Ya, saya masih takjub saat itu, hari itu berkenaan dengan hari terjadinya PHK massal di perusahaan saya bekerja. Namun dengan pesangon yang lumayan dan kehadiran sang buah hati menjadikan musibah itu tak begitu terasa. Untuk namanya, isteri saya sudah mempersiapkannya semenjak belum menikah. Saya manut aja, lagian nama itu bagus, Luqman ? Yah nama seorang tokoh bijak yang diabadikan Allah dalam kitabNya.

Ba’da PHK tiga bulan kemudian saya  diterima di sebuah perusahaan tambang tembaga di pulau Sumbawa, kami pun boyongan ke Pulau Lombok, NTB. Tahun demi tahun berlalu begitu saja, dua tahun di Pulau Lombok, saya mengenal dakwah islamiyah yang begitu menyentuh dan membawa perubahan drastis. Konsep pendidikan anak pun berubah total dari metode terapi musik klasik kepada terapi murrotal Al-Qur’an, dari lagu-lagu anak pada umumnya kepada nasyid-nasyid perjuangan.

Seperti fitrahnya, tabi’at anak mengikuti yang dicontohkan ortunya. Saya pun selalu berusaha memberi contoh, nasihat, cerita-cerita heroik pahlawan islam. Mulai dari shalat berjamaah di masjid, berdakwah, dan bermain perang-perangan. Walhasil anak saya itu menjadi mujahid minded. Suatu ketika ba’da shalat isya di masjid saya terkejut bercampur haru dan kagum ketika tiba-tiba anak kesayangan saya itu men”taujih” teman sepermainannya : “Hai Ical, kalau kau ingin masuk surga yang banyak mainan yang kau sukai, maka berjihadlah dan mati syahidlah !” (saya memang memotivasinya sesuai dengan jiwa kekanakannya bahwa di surga banyak mainan mobil-mobilan, dsb) Saya pun tersenyum bangga ternyata anak saya pun da’i minded. Namun beberapa menit kemudian keadaan berubah. Tiba-tiba si mujahid kecil berjalan melewati para asatidz, tokoh-tokoh masyarakat dan ta’mir masjid sambil mengeluarkan sesuatu”…..Tuutt…tuut…truuuuuth….!!” Orang-orang yang dilewati terperangah mesem-mesem kompak menoleh ke arah saya dan Ups, rasanya wajah saya membutuhkan kain penutup dan sekejap badan saya terasa mengecil karena malu. Rupanya ada satu hal yang lupa saya hilangkan dari aktivitas harian di dalam rumah di depan anak dan isteri. Sepele tapi berakibat cukup fatal. Beruntung yang diwarisi tidak termasuk aroma yang ditinggalkan, sang mujahid kesayangan masih bingung mengapa orang-orang tiba-tiba tertawa. Cengengesan, penuh dengan gigi yang tersenyum polos, persis dengan yang di acara resepsi.

Surat Cinta buat Umi

•October 30, 2007 • Leave a Comment

picture-130.jpg

Juara 1 Lomba Menulis Surat Cinta, April 2005

Diselenggarakan oleh Bidang Kewanitaan DPW PKS NTB (juri: Ust. Cahyadi Takariawan)

Cahaya redup kamar sebuah rumah kontrakkan, 16 April 2005

Toek : Isteriku yang solihah di rumah

Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Umi…..entah angin apa yang barusan berhembus, tiba-tiba tubuhku bangkit dan menghidupkan komputer, hatiku meronta-ronta ingin segera dikeluarkan isinya. Sejenak malam yang sedianya ingin menghantarkan mata ini untuk memejam, tiba-tiba mengurungkan niatnya. Wahai diri..! Ada yang harus engkau ungkapkan sebelum aku memejam, ungkapkanlah..! tulislah..! supaya aku tenang membenamkan kelopakku, begitu kira-kira mata ini seandainya ia bisa berkata-kata.

Akhirnya jari-jari ini mulai menari memencet tombol komputer tua pentium II second hand yang sudah sarat dengan file-file yang kita beli dari seorang akh satu setengah tahun yang lalu. Influenza yang membuat wajahku terasa berat tak sanggup melawan gejolak hati ini. Obat dokter yang barusan diambil di apotik pun tak sanggup mendatangkan kantuk, luar biasa energi ini, aku tak tahu dari mana asalnya, kurasa mungkin energi itu berasal dari fitrahku, ya, energi itu bernama “Cinta”.

Umi…!! Belum pernah aku merasakan cinta sedahsyat ini, setelah kelahiran putera kedua kita setelah penantiannya yang begitu lama, setelah berbagai upaya kita lakukan, dia belum kunjung datang, sampai ketika suatu saat abi berazzam kepada Zat yang maha agung: “Wahai Rabb, sesungguhnya aku akan mengambil cuti untuk berjihad di jalanMu, dalam kampanye putaran pertama tahun ini, aku akan kerahkan seluruh kemampuanku untuk memenangkan partaiMu ini, agar berkurang penderitaan bangsaku dari para koruptor dan dengan izinmu kelak mudah-mudahan ini menjadi awal tegaknya kalimatMu di muka bumi, Ya Allah kabulkan permohonanku ini jika aku sekarang berada di jalan dakwah yang engkau ridhai.” Padahal sedianya cuti itu akan kita pakai untuk istirahat dan pergi ke suatu tempat meninggalkan seluruh kesibukan untuk mengupayakan hadirnya si buah hati, begitulah nasihat dokter dan beberapa orang. Tibalah saat jihad itu, Ustadz Dahir melambaikan tangannya memanggil ke arah kendaraan pick up tua yang dicemooh oleh simpatisan partai lain yang memang mobil mereka lebih  bagus-bagus, perlahan-lahan mobil chevrolette tua itu menggulirkan rodanya, Gemuruh Takbir mengudara mewarnai suasana saat itu, entah kenapa hanya partai kita yang lantang bertakbir sementara mereka hanya berteriak Hidup…hidup…! Diiringi nasyid perjuangan shoutul harokah dan Ruhul Jadid mobil menyusuri pantai senggigi. Kami hampir saja syahid di tanjakan bukit Pemenang saat dengan susah payah mobil kami terhenti di tengah bukit dan berbalik mundur, hanya takbir yang menenangkan kami, akhirnya fase itu dapat dilewati juga. Aku teringat kepada umi, aku kembali berdo’a kepada Nya dengan berwasilah kepada jihad ini, Ya Rabb jika ini jalan dakwah yang benar engkau pasti mendengarkan do’aku, berilah aku seorang putera yang soleh.

Sebulan kemudian, setelah Pemilu Legislatif aku dikejutkan oleh teriakkan histeris umi yang baru keluar dari kamar mandi. Ternyata…. Indikator pada test kehamilan itu menunjukkan tanda Positif, Aku tersungkur sujud tak tahan membendung air mata, bukan terharu kepada kehadiran janin yang begitu lama dinanti, tapi rasa malu kepada Allah, ternyata saat ini detik ini betapa Allah begitu mengawasi kita, betapa Allah itu dekat sekali, ah aku tidak pantas menerima anugerah ini, ibadahku, pengorbananku, akhlakku, rasanya tidak mungkin menjadi asbab turunnya kasih sayangNya, karena masih banyak ikhwah lain yang lebih dariku.  Inilah hidayah… umi. Kita harus iltizam dengan dakwah ini, semoga Allah menjaga terus intima kita kepada dakwah ini hingga akhir hayat.  Sekelumit ingatan itu kembali membuatku menangis saat ini, saat aku menuliskannya di surat ini.  Kulihat kelelahan merona diwajah umi yang sedang tertidur dilantai diatas kertas-kertas berkas untuk rapat pertemuan ASMA besok siang, tidurlah sayang, engkau sudah mengurusku yang sedang sakit ini, mengurus anak-anak, dan seabrek aktivitas dakwahmu. Himpun tenagamu besok pagi kau harus berjihad lagi dalam Munashoroh untuk ikhwah Palestina, seandainya abi besok pagi sehat, insya Allah abi ikut Munashoroh.

Pandanganku kembali ke monitor komputer, melanjutkan menulis isi hati yang sudah hampir habis. Umi sayang “Mata Airku”  Bacalah dengan hatimu yang paling dalam kalimat ini: I love you fillah more than I’ve loved you fi Jahiliyah. Sayang sekali ya kita tidak menikah di jalan dakwah, mungkin karena kita dulu tidak membaca bukunya pak Cahyadi “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”. At least abi ingin mengatakan “Di Jalan Dakwah Rumah Tanggaku Berlayar Menuju Surga” Semoga kesolihahan umi  ini membuat bidadari di surga merah merona wajahnya karena cemburu, semoga Allah mempertemukan abi lagi kelak di surga dengan bidadari yang sama saat abi di dunia.

Ummiiiiiii…..tiba-tiba anak kita yang pertama terbangun memanggil umi, abi berhenti menulis dan menghampirinya sebelum umi terbangun kemudian abi  bertanya: Kenapa Nak? Abi… Kaka laper, jawabnya. Ah ternyata tadi dia tertidur sebelum sempat makan karena kita pergi ke dokter. “Sebentar sayang, abi gorengkan telor ya tadi umi tidak sempat masak karena sepulang dari TPA harus nganter abi ke dokter, afwan ya sayang!! Anak itu hanya mengangguk polos akhirnya dia makan dengan lahapnya disuapin abinya. Setelah itu dia deketin adiknya dan uminya lalu tidur kembali. Duhai umi sabarlah hidup bersamaku yah!! Abi bahagia punya isteri seperti umi. Kutengok jam sudah setengah dua belas, kemudian kutengok kasur tiga sosok berbeda posisi tidur tengah asyik dibuai mimpi. Kutarik nafas panjang dan kutengadahkan kepala: “Ya Allah Jadikanlah keluargaku ini keluarga Dakwah, jadikan anak-anakku da’i-da’i dan mujahid-mujahidMu yang tangguh, semoga mereka menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa.”

Abi sudahi surat ini dengan hamdalah “Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin” Semoga Allah mengampuni kita.  

Min abi Sayang Mulhadi- Gunung Sari

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.