
Blencong, 19 Desember 2008
Bismillahirrahmaanirrahiim…..
As.wr.wb
Sayangku….Tahukah engkau? Saat aku hendak menulis surat ini, bakda subuh, keadaanku teramat lelah dan mengantuk. Hujan yang mengguyuri kita kemarin saat aku memegang kemudi sekuter tua coklat kita yang dirakit tahun1990 itu membuatku mengeluarkan tenaga ekstra demi konsentrasi penuh dalam lalu lintas kota mataram yang carut-marut itu. Apalagi saat kita memasuki gang SDIT yang ada polisi tidurnya…hehe…aku harus menyebranginya dengan menyilang agar knalpot berkarat sekuter kesayangan kita itu tak dihantam oleh punggung si polisi tidur. Ngomong-ngomong sekuter kita tiada duanya di halaman parkir SDIT ya? Ia jika dibandingkan dengan sepeda motor terkini dan mobil dari kelas menengah ke atas ibarat sehelai uban di tengah kilauan rambut hitam. Merusak pemandangan…hihihi…Tapi tiada mengapalah sayangku memang keadaanya seperti itu. Aku belum sanggup membeli kendaraan yang lebih dari itu. Namun duduk di atasnya kadang terasa seperti di atas kuda sembrani tatkala membonceng dikau yang penuh cinta kesetiaan dan tak pernah mengeluh dengan sekuter yang sering susah di start karena karburatornya banjir atau businya kotor itu. Serasa aku ibarat Rama yang membonceng Shinta membawanya pulang dari cengkeraman Raksasa jahat. Sendal jepitku sampai berlubang bawahnya lantaran beradu dengan engkol starter yang harus diinjak berkali-kali jika mau menghidupkan sekuter. Tapi anehnya dua hari yang lalu sendal ajaib itu raib dicuri maling saat aku shalat Zuhur di masjid sebelah rumah pak Kirman. Heh…aku berang sekali, sempat kukejar maling sialan itu dan kukitari perumahan kita sampai pelosok-pelosoknya dengan mengendarai sekuter kita yang mengaum-aum laksana singa lapar. Namun maling itu tak kutemukan…oh airmataku hampir menetes meratapi sandal jepit saksi cinta kita itu. Sayangku…(menghela nafas panjang)…Aku mohon maaf atas sekuterku itu ya. Ingin rasanya aku menggantinya dengan mobil innova atau setidaknya Avanza atau Xenia. Karena puteri cantik sepertimu tak pantas terguncang-guncang di atas sekuter tua yang STNK nya mati karena lalai bayar pajak (ups…jangan dibaca nyaring yang ini). Apalagi diguyur hujan kemarin di jalanan. Sehingga engkau harus bersembunyi di belakang jas hujan biru kita. Kita berkendara seperti seekor barongsai orang Tionghoa yang mengamuk di jalanan karena ngebut, kita sudah terlambat ke tempat tujuan untuk menghadiri rapat di sekolah ananda kita. Tapi alhamdulillah ternyata rapat baru dimulai. Punggungku terasa berat karena mengemudi kemarin ke Kediri untuk menghadiri undangan aqiqah sahabat dan saudara kita Abu Fathan. Cukup jauh memang. Tapi seperti yang kau bilang menghadiri undangan saudara seiman selama kita mampu adalah wajib dan berfaedah untuk meraih barokah. Kalimatmu itu menyemangatiku dan menutupi kelelahanku. Oh senangnya jika mendengar hikmah dari lisanmu. Ia memang bisa mengusir lelah. Karena memang keluar dari hati yang penuh cinta. Sama ketika aku menulis surat ini, karena demi cinta pula lelah dan kantukku sirna berganti bait tulus ini.Sayangku….Terima kasih atas cintanya selama ini dan seterusnya ya. Terima kasih telah membesarkan tiga lelaki kecil kita. Terima kasih (ihik..ihiks…) karena kau telah berkorban meninggalkan karirmu yang menanjak di perusahaan swasta dan kau juga tak memedulikan ijazah australimu yang prestise itu dan diperbincangkan bule-bule ekspatriat di kantormu lantaran sangat mengaggumkan mereka. Andaikan kau tetap bekerja, mungkin sekarang kau telah menjadi manajer di perusahaan itu dan kita sudah punya kijang Innova. Tapi sekali lagi demi cintamu kepada anak-anak dan keinginan besar untuk membersamai mereka tiap dibutuhkan, engkau tak mau dibenturkan dengan jam kerja di kantor. Sehingga kau talak tiga pekerjaan itu. Oh….terima kasih sayangku….terima kasih…What a bloody lucky man I am?
Sayangku….selamat hari ibu….



Komentator